Fenomenalisme

|



A. Pengertian Fenomenalisme

Fenomenalisme, Inggris: Phenomenalism adalah aliran atau paham yang menganggap bahwa fenomen _Inggris: phenomenon; Yunani: Phainomenon (apa yang tampak) dari phainesthai/ phainomai/ phainein (menampakkan, memperlihatkan)_ adalah sumber pengetahuan dan kebenaran.
Fenomenalisme menjadikan suatu gejala (Fenomen) sebagi sumber pengetahuan dan kebenaran. Berbeda dengan seorang ahli ilmu positif yang mengumpulkan data, mencari korelasi dan fungsi, serta membuat hukum-hukum dan teori. Fenomenalisme bergerak di bidang yang pasti. Hal yang menampakkan dirinya dilukiskan tanpa meninggalkan bidang evidensi yang langsung. Fenomenalisme adalah suatu metode pemikiran, "a way of looking at things".
Tokoh-tokoh Fenomenalisme: 




  1.  Edmund Husserl (1859-1938)
Nama lengkapnya adalah Edmund Gustav Albrecht Husserl (8 April 1859, Prostějov – 26 April 1938, Freiburg), ia adalah seorang filsuf Jerman, yang dikenal sebagai bapak fenomenologi. Karyanya meninggalkan orientasi yang murni positivis dalam sains dan filsafat pada masanya, dan mengutamakan pengalaman subyektif sebagai sumber dari semua pengetahuan kita tentang fenomena obyektif. Pokok pemikirannya, bahwa obyek ilmu tidak terbatas pada yang empirik (sensual seperti pada positivisme) juga mencakup fenomena lain seperti persepsi, pemikiran, pemahaman, kemauan, perasaan dan keyakinan subjek terhadap sesuatu di luar subjek, juga ada sesuatu yang transenden di samping yang aposteriotik.


2. Max Scheler (1874-1928)
Max Sceler adalah filosof aliran Husserl. Ia lahir di Muchen pada tahun 1874. Ia mendapat gelar doktor pada tahun 1897 di bawah pimpinan Rudolf Euchen. Pada tahun 1928, Ia dipanggil ke Frankfurt untuk menjadi guru besar. Akan tetapi, sebelum mulai tugasnya ia meninggal dunia. Mula-mula Max Scheler menerima pengaruh dari Rudolf Euchen. Berkat pengaruh itu, Scheler kagum pada filsuf Kristen Agustinus. Memang antara Scheler dan Agustinus ada kesamaan tabiat. Scheler juga berpikir pasti getaran jiwa dan hatinya. Pada tahun 1901 Scheler berkenalan dengan Logische Untersuchungen dari Husserl. Pada tahun 1913, ia mulai mengarang sampai akhir hayatnya.

3. Hartman (1882-1950)

Nicolai Hartman lahir pada tahun 1950. Menurutnya dari analisa fenomenologi bahwa pengetahuan subyek dan obyek itu berhadap-hadapan. Obyek menentukan sifat pengetahuan. Analisa lebih lanjut menyatakan bahwa realisme lebih dapat menerangkan pengetahuan dari pada idealisme. Dalam etika pun Hartman menerima obyektifitas nilai-nilai.

4. Martin Heidegger (1889-1976)

5.Maurice Merleau-Ponty (1908-1961)

6.Jean Paul Sartre (1905-1980)
Sartre berkiprah dalam dunia filsafat mulai tahu 1905 sampai dengan tahun 1980. Ia mengembangkan ide-ide Husserl dan Heidegger menjadi tubuh pengetahuan yang koheren yang dikenal sebagai eksistensialisme. Dalam karya-karyanya, ia memperhatikan filsafat kebebasan dan filsafat keputusan. Ia ingin mengenalkan pemikirannya mengenai pengada-dalam-dunia.

7.Soren Kierkegaard (1813 -1855)










Daftar Pustaka
Kattsoff, Louis. 2004. Pengantar Filsafat penerjemah Soejono Soemargono. Yogyakarta: Tiara Wacana.


 

©2009 PeRjuanGanKu | Template Blue by TNB